Aparat Tak Tersentuh, Hukum Tak Bergerak, dan Sabung Ayam Menjadi Raja di Padenganploso

PERWIRA POST

- Redaksi

Selasa, 23 September 2025 - 21:53 WIB

50228 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMONGAN — Desa Padenganploso, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, pelan tapi pasti berubah menjadi episentrum kehancuran moral. Arena sabung ayam berdiri gagah seolah legal, menjadi panggung kekerasan dan perjudian yang digelar tanpa malu-malu pada siang bolong. Warga hanya bisa menggertakkan gigi — tertekan, terhina, dan merasa dikhianati oleh negara yang seharusnya melindungi.

Hampir setiap hari, suara teriakan para penjudi bercampur lolongan ayam yang meregang nyawa menggema dari arena yang bahkan tak terselubung. Ayam-ayam yang tak berdaya dipaksa bertarung sampai mati, tubuh bersimbah darah, paruh patah, dan cakar bersenjata silet. Di atas tanah becek berlumur darah itulah, para penjudi merayakan kekejian dengan uang kertas yang beterbangan.

Tak berhenti sampai di sana, jerat paling mengerikan justru menyergap para warga. Para lelaki dewasa terhisap dalam candu judi. Barang-barang berharga mulai hilang satu persatu — dijual, digadaikan, atau dipertaruhkan. Dari perhiasan istri, motor satu-satunya, hingga sawah peninggalan orang tua. Semua habis dilahap api taruhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya sudah tidak tahu harus bagaimana. Suami pulang selalu marah kalau kalah. Uang belanja tidak ada. Anak saya sekarang takut sama bapaknya sendiri,” tutur seorang ibu rumah tangga yang meminta identitasnya disamarkan, Selasa (23/9/2025), dengan mata sembab dan suara bergetar. Derita warga adalah nyata, tapi negara tampak pura-pura buta.

Yang lebih mengerikan adalah cara kekerasan itu diwariskan. Bocah-bocah yang belum layak menonton film laga kini harus menyaksikan bagaimana dua binatang dipaksa bertarung hingga mati, disoraki bak gladiator. Mereka tumbuh dengan pandangan bahwa kekerasan adalah hiburan, judi adalah norma, dan keadilan adalah mitos.

Namun yang paling sunyi — dan sekaligus paling bising — adalah absennya aparat dan pemerintah desa. Jangankan tindakan, wujud pun tak pernah tampak. Laporan demi laporan masyarakat seperti dibuang ke tong kosong. Pemdes Padenganploso tak ubahnya pepatung: diam dan tak melihat. Sementara polisi di Kecamatan Pucuk memilih duduk nyaman dalam kabut ketidakpedulian.

Adakah pembiaran yang disengaja? Ataukah sekadar ketidakmampuan yang dipoles dengan alasan birokrasi? Tak ada yang tahu. Yang pasti, kehadiran negara di Padenganploso hari ini tinggal nama.

Sabung ayam memang bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah pembunuhan pelan-pelan terhadap masa depan satu desa. Mental kolektif masyarakat dirusak, anak-anak diwariskan budaya kekerasan, dan lembaga sosial keluarga diluluhlantakkan oleh candu taruhan.

Warga kini berada di ujung tanduk. Harapan perlahan meredup kepada aparat wilayah Kecamatan Pucuk. Maka, tuntutan beralih ke level Kabupaten Lamongan — kepada kepolisian, kejaksaan, dan bupati sendiri. Jika derita rakyat Padenganploso tidak segera ditanggapi, maka bukan hanya ayam yang akan terus dibantai. Akal sehat, moral, dan masa depan anak-anak pun akan ikut disembelih di arena itu.

Negara tak boleh diam. Jika aparat tetap mandul, maka jeritan rakyat akan berubah menjadi kutukan. Dan ketika itu tiba, semua yang kini berpura-pura tuli, akan menghadapi kemarahan dari mereka yang selama ini hanya ingin hidup tenang tanpa darah di halaman rumah mereka. (*)

Berita Terkait

Oknum Ketua Umum dan Kabiro Portal Terlibat Kasus Pemalsuan, Ditambah Dugaan Konsumsi Sabu, Ini Harus Diusut Tuntas oleh Aparat Penegak Hukum!
Sampai Ke Lubang Semut Jatanras Simalungun Kejar Tersangka! Residivis Layu Tak Berkutik Saat Digerebek Subuh-Subuh
Polres Kampar Ungkap Kasus Menonjol, Cabul & Curat, Kasat Reskrim: Kejahatan Tak Dibiarkan, Masyarakat Jangan Takut Melapor
PW GPA DKI Angkat Topi Kepada Kepala BNN Turun Langsung Operasi Besar Dalam Memberantas Jaringan Narkoba di Wilayah
PPWI Ogan Ilir: Bersihkan Dunia Pers dari Oknum Serakah yang Cemarkan Profesi
Korban Perampasan di Semarang Bersuara: ‘Polisi Kemana? Leasing Lepas Tangan? Saya Cari Keadilan Sampai Titik Darah Penghabisan!’
Cekcok Soal Seng Bekas, Nyawa Petani Melayang di Aceh Tenggara
Sat Narkoba Polres Simalungun Amankan Wiraswasta Terlibat Narkoba, Bukti Dukung Program Anti-Narkoba Presiden

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:06 WIB

Semarak Kontes Durian Lokal Aceh Tenggara, Kapolres Bersama Forkopimda Dukung Potensi Durian Unggulan Daerah

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:39 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Hadiri Perayaan Dies Natalis ke-2 GAMKI, Perkuat Sinergi Lintas Agama dan Pemuda

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WIB

Polres Aceh Tenggara Tingkatkan Pengamanan dan Patroli di SPBU, Jaga Ketertiban di Tengah Kelangkaan BBM

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:27 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Gelar Temu Ramah dan Anev Bersama Bhabinkamtibmas Jajaran, Perkuat Peran Sebagai Garda Terdepan Polri

Kamis, 23 Juli 2026 - 17:35 WIB

Dari Dua Pelaku ke Pemasok Utama, Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Bongkar Jaringan Sabu Medan–Kutacane

Kamis, 23 Juli 2026 - 12:22 WIB

Polres Aceh Tenggara Kawal Penertiban Pengisian BBM Bersubsidi, Pastikan Tepat Sasaran dan Tertib

Rabu, 22 Juli 2026 - 22:59 WIB

Pengungkapan Kilat 105 Gram Sabu di Aceh Tenggara, Yahdi Hasan Beri Jempol untuk Kapolres Baru

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:52 WIB

Awal Kepemimpinan yang Tegas, Polres Aceh Tenggara Berhasil Sita Lebih dari 100 Gram Sabu

Berita Terbaru