CIANJUR – Ketegangan menyelimuti kawasan proyek panas bumi (Geotermal) di Kabupaten Cianjur. Aksi penolakan proyek ini berujung pada insiden kekerasan fisik saat ratusan warga Pasircina menggeruduk lokasi proyek pada Kamis (29/01/2025).
Kericuhan bermula pada ( 27 /01/2025 ) malam ketika pihak pengembang menaikkan dua unit alat berat ke lokasi. Mengetahui hal tersebut, ratusan warga Pasircina yang menolak keras adanya proyek ini, langsung mendatangi lokasi dan memaksa operator untuk menurunkan kembali alat-alat berat tersebut.

Situasi di lapangan memanas hingga tak terkendali. Dalam proses penurunan paksa tersebut, terjadi insiden pemukulan. Seorang warga asal Ciguntur dilaporkan menjadi korban kekerasan di tengah kerumunan massa.
Anggota Komisi 1 DPRD Kabupaten Cianjur, Hendry Juanda, mengaku terkejut mendengar adanya bentrokan fisik yang menyebabkan jatuhnya korban. Ia menyayangkan aksi penolakan tersebut harus diwarnai dengan kekerasan.
“Jujur, saya baru tahu sekarang kalau dalam aksi penolakan dua alat berat tersebut telah terjadi insiden pemukulan yang menimbulkan korban. Sebelumnya saya kurang memonitor detail kejadian di lapangan hingga sejauh itu,” ujar Hendry saat dikonfirmasi.
Mengingat situasi yang rawan konflik fisik, Hendrik mendesak agar insiden ini segera diredam agar tidak memicu aksi balasan atau proses hukum yang panjang. Ia berharap kasus pemukulan ini dapat diselesaikan melalui jalur musyawarah.
“Saya sangat berharap, tolong diantisipasi jangan sampai kejadian seperti ini memakan korban lagi. Mudah-mudahan kejadian pemukulan ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan tanpa harus melibatkan proses hukum,” imbaunya.
Menurut Hendrik, pemicu utama gesekan panas di lapangan adalah minimnya komunikasi. Ia menegaskan bahwa pihak pengembang harus bertanggung jawab untuk meredam potensi konflik dengan cara turun langsung ke masyarakat.
“Ini akibat kurangnya sosialisasi. Pengembang harus lebih intens lagi mendekati warga, terutama mereka yang menolak keras. Sampaikan kajian-kajiannya dengan jelas, jangan sampai warga tidak paham dan akhirnya terjadi bentrokan seperti ini,” tegasnya.***

































